daftar pengunjung

Rabu, 11 April 2012

Pintu Rezeki


Pintu Rezeki

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas bersama beberapa amal yang merupakan pintu pembuka rezeki.

Istighfar dan Tobat
Salah satu penghalang rezeki adalah kemaksiatan. Karena itu, untuk meraih rezeki seseorang harus menghilangkan penghalangnya, yaitu dengan istighfar dan tobat kepada Allah. Istighfar dan tobat dalam arti memohon ampun atas dosa seraya menghentikan perbuatan tersebut, menyesal dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Allah berjanji untuk memberi rezeki kepada orang-orang yang beristighfar kepadanya, "Maka Aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Rabmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepadamu hujan yang lebat. Dan, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."
(Nuh: 10--12).

Berkaitan dengan ayat ini, ketika Imam Hasan al-Bashri ditanya seseorang tentang kegersangan bumi, kemiskinan, keinginan memperoleh anak, dan kekeringan kebun, beliau menjawab dengan, "Istighfar kepada Allah." Ketika beliau ditanya, mengapa menjawab banyak pertanyaan dengan satu jawaban, beliau menjawab dengan mengutip surat Nuh di atas dan sabda Rasulullah saw. yang artinya, "Barang siapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR Ahmad).

Beribadah dengan Sepenuh Hati
Yang dimaksud dengan beribadah dengan sepenuh hati adalah beribadah dengan khusyu dan benar-benar meraskan kehadiran Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, "Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim).

Bila seseorang melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati, pintu rezeki akan terbuka di depan mata. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, jangan jauhi Aku, sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tangannmu dengan kesibukan." (Silsilah Hadis ash-Shahihah, 1359).

Silaturahmi
Silaturahmi adalah menyambung huhungan baik dengan kerabat dekat. Bentuknya tidak sekadar mengunjungi semata, tetapi lebih dari itu. Yaitu, memberikan kebaikan yang bisa diberikan dan menolak keburukan yang bisa ditolak sesuai dengan kemampuannya. (Tuhfatul Ahwadzi, 6/30).

Rasulullah saw. bersabda yang artinya, "Barang siapa yang senang untuk dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya serta dihindarkan dari kematian yang jelek, hendaknya ia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturrahmi." (Ahmad, 1212).

Membiayai Penuntut Ilmu Syari
Anas bin Malik meriwayatkan, "Dahulu pada masa Rasulullah saw. terdapat dua orang bersaudara. Salah seorang di antaranya senantiasa mendatangi Nabi saw. (untuk mencari ilmu), sementara yang lain bekerja untuk (membiayai hidup mereka berdua). Saudara yang bekerja kemudian mengadu kepada Nabi saw. (tentang saudaranya yang tidak mamu membantu bekerja), maka beliau saw bersabda, "Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan sebab dia." (HR Tirmidizi).

Memberi nafkah kepada penuntut ilmu, selain sebagai pembuka pintu rezki juga merupakan amalan besar untuk perjuangan Islam. Faktor utama penghambat kemajuan kaum muslimin adalah kelangkaan para ulama. Diharapkan dari para penuntut ilmu ini akan muncul para ulama yang akan membimbing umat menuju jalan yang lurus.

Karena itu, Ibnu Mubarak selalu mengkhususkan pemberiannya kepada para ahli ilmu. Ketika beliau ditanya,"Mengapa tidak memberikan kepada orang umum? Beliau menjawab, "Sesungguhnya saya tidak melihat kedudukan yang lebih utama setelah kenabian selain kedudukan para ulama. Jika hati para ulama itu disibukkan dengan kebutuhan hidupnya, niscaya ia tidak bisa memberi perhatian dengan sepenuhnya kepada ilmu, serta tidak bisa belajar dengan baik. Karena itu, membuat mereka berkonsentrasi penuh untuk mendapatkan ilmu adalah lebih utama." (Tafsir Al-Qasimi, 350).

Berinfak di Jalan Allah
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (Saba': 39).

Ibnu Katsir berkata, "Betapun sedikit apa yang kamu infakkan dari hal yang diperintahkan kepadamu dan diperbolehkan-Nya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran, sebagaimana tersebut dalam hadis qudsi. Allah SWT berfirman yang artinya, "Wahai anak Adam berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu." (Tafsir Ibnu Katsir, 3/595).

Ayat dan tafsir di atas menjelaskan bahwa dengan berinfak, Allah akan mengganti dengan harta di dunia dan pahala di akhirat. Sungguh satu keuntungan yang berlipat, harta di dunia tetap ada, sementara pahala di akhirat berhasil pula diperoleh. Allah SWT berfirman yang artinya, "Perumpamaan (nafkah yang dikelaurkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 261). Dengan demikian, benar seperti yang dikemukakan oleh Rasulullah bahwa bersedekah tidaklah menjadikan fakir bagi seseorang.

Karena itu, ketika Utsman bin Affan membawa seribu unta penuh dengan muatan gandum dan ditawar oleh para pedagang dengan harga yang tinggi, dia menolak. Ia berkata bahwa ia akan menjual kepada yang berani melipatgandakan harta hingga sepuluh kali lipat atau lebih. Maka, kemudian ia membagikaannya kepada para fakir miskin dari penduduk Madinah. Ia yakin dengan balasan Allah yang berlipat ganda.

Karena itu, marilah kita segera berinfak dan jangan takut miskin. Rasulullah saw. bersabda kepada Bilal, "Wahai Bilal, berinfaklah dan janganlah takut miskin kepada pemilik Arsy."

Sesungguhnya ketakutan akan kemiskinan hanyalah bisikan setan. Allah berfirman yang artinya, "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 268).

Berbuat Baik kepada Orang yang Lemah
Berbuat baik dan berlemah-lembut kepada orang lemah merupakan amal mulia sekaligus menunjukkan ketawaduan seseorang. Ia sadar bahwa kelebihan atau kekayaan yang dimilikinya tiada lain hanyalah karunia Allah semata. Ia sadar bahwa kekayaan dan rezekinya juga disebabkan adanya orang-orang yang lemah. Rasulullah saw. bersabda, "Carilah keridaan-Ku melalui orang-orang yang lemah di antara kalian. Karena, sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian." (Silsilah Hadits Sahihah, 778).

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Demikianlah beberapa poin penting dari amal-amal Islam yang sekaligus merupakan kunci-kunci pembuka rezeki. Sehingga, tidak ada alasan bagi seorang muslim berputus asa dari meraih rezeki yang halal. Selama ia patuh kepada Allah dan mengamalkan amalan-amalan pembuka rezeki, niscaya Allah akan membukakan rezeki baginya dari arah yang tidak disangka-sangka. Wallahu a'lam.

Sumber: Diadaptasi dari Mafaatihur Rizqi, DR. Fadhlu Ilahi

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

0 komentar:

Poskan Komentar