daftar pengunjung

Minggu, 15 April 2012

Pengetahuan Mengenai Yang Turun Pertama dan Terakhir


Pengetahuan Mengenai Yang Turun Pertama dan Terakhir

Ungkapan bahwa Rasulullah saw. menerima Quran yang diturunkan kepadanya itu mengesankan suatu kekuatan yang dipegang seseorang dalam menggambarkan segala yang turun dari tempat yang lebih tinggi. Hal itu karena tingginya kedudukan Alquran dan agungnya ajaran-ajarannya yang dapat mengubah perjalanan hidup umat manusia, menghubungkan langit dengan bumi, dan dunia dengan akhirat. Pengetahuan mengenai sejarah perundang-undangan Islam dari sumber pertama dan pokok - yaitu Alquran- akan memberikan kepada kita gambaran mengenai pentahapan hukum dan penyesuaiannya dengan keadaan tempat hukum itu diturunkan, tanpa adanya kontradiksi antara yang lalu dengan yang akan datang. Hal demikian memerlukan pembahasan mengenai apa yang pertama kali turun dan apa yang terakhir kali turun. Demikian pula pembicaraan mengenai apa yang pertama kali dan terakhir kali turun itu memerlukan pembahasan mengenai segala perundang-undangan ajaran Islam, seperti makanan, minuman, peperangan dan lain sebagainya.
Dalam hal apa yang pertama kali diturunkan dan apa yang terakhir kali, para ulama mempunyai banyak pendapat, yang akan kami ringkaskan dan pertimbangkan di dalam pembahasan berikut ini.

Yang pertama kali turun
1. Pendapat yang paling sahih yang pertama kali turun ialah firman Allah SWT yang artinya, "Bacalah dengan nama Rabbmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Rabbmu lebih pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tiada diketahuinya."
(Al-'Alaq: 1-5)

Pendapat ini didasarkan pada suatu hadis yang diriwayatkan oleh dua syekh ahli hadis dan yang lain, dari Aisyah r.a. yang mengatakan, "Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah saw. adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Dia melihat dalam mimpi itu datangnya bagaikan terangnya pagi hari. Kemudian dia suka menyendiri. Dia pergi ke gua hira untuk beribadah beberapa malam. Untuk itu ia membawa bekal. Kemudian ia pulang kepada Khadijah r.a., maka Khadijah pun membekalinya seperti bekal terdahulu. Di gua Hira, ia dikejutkan oleh suatu kebenaran. Seorang malaikat datang kepadanya dan mengatakan, "Bacalah!", Rasulullah saw. menceritakan, 'Maka aku pun menjawab, 'Aku tidak pandai membaca.' Malaikat tersebut kemudian memelukku sehingga aku merasa amat payah. Lalu aku dilepaskan, dan dia berkata lagi, 'Bacalah.' Maka aku pun menjawab, 'Aku tidak pandai membaca.' Lalu dia merangkulku yang kedua kali sampai aku kepayahan. Kemudian dia lepaskan lagi dan dia berkata, 'Bacalah.' Aku menjawab, 'Aku tidak pandai membaca.' Maka dia merangkulku yang ketiga kalinya sehingga aku kepayahan, kemudian dia berkata, 'Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang telah menciptakan ...' sampai dengan ...a pa yang tidak diketahuinya,"(Hadis)

2. Dikatakan pula bahwa yang pertama kali turun adalah firman Allah, "Yaa ayyuhal muddatstsir" (wahai orang yang berselimut). Ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadis, Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dia berkata, 'Aku telah bertanya kepada Jabir bin Abdullah, yang manakah di antara Quran itu yang turun pertama kali? Dia menjawab, Yaa ayyuhal muddatstsir." Aku bertanya lagi, ataukah Iqra' bismirabbik? Ia menajwab, 'Aku katakan kepadamu apa yang dikatakan Rasulullah saw. kepada kami, 'Sesungguhnya aku berdiam diri di gua Hira. Maka ketika habis masa diamku, aku turun lalu aku telusuri lembah. Aku lihat ke muka, ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Lalu aku lihat ke langit, tiba-tiba aku melihat Jbril yang amat menakutkan. Maka aku pulang ke Khadijah. Khadijah memerintahkan mereka untuk menyelimuti aku. Merekapun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan, "Wahai orang-orang yang berselimut, bangkitlah, lalu berilah peringatan."

Mengenai hadis Jabir ini, dapatlah dijelaskan bahwa pertanyaan itu mengenai surah yang diturunkan secara penuh. Jabir menjelaskan bahwa surah Muddatstsir lah yang turun secara penuh sebelum surah Iqra selesai diturunkan, karena yang turun pertama kali dari surah Iqra' hanyalah permulaannya saja. Hal yang demikian juga dipekuat oleh hadist Abu Salamah bin Jabir yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Jabir berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw. ketika ia berbicara mengenai terputusnya wahyu, maka katanya dalam pembicaraan itu, "Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku angkat kepalaku tiba-tiba aku melihat malaikat yang mendatangi aku di gua hira itu duduk di atas kursi antara langit dan bumi. lalu aku pulang dan aku katakan, selimuti aku! merekapun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan Yaa ayyuhal muddatstsir

Hadis ini menunjukkan bahwa kisah tersebut lebih kemudian daripada kisah gua Hira, atau al-Muddatstsir itu adalah surah pertama yang diturunkan setelah terhentinya wahyu. Jabir telah mengeluarkan yang demikian itu dengan ijtihadnya, akan tetapi riwayat Aisyah lebih mendahului. Dengan demikian, ayat Alquran yang turun secara mutlak ialah Iqra dan surat yang pertama kali diturunkan secara lengkap dan pertama diturunkan setelah terputusnya wahyu adalah Yaa ayyuhal muddatstsir," dan surat yang pertama kali turun untuk risalah ialah Yaa ayyuhal muddatstsir dan untuk kenabiaan adalah Iqra.

3. Dikatakan pula bahwa yang pertama kali turun adalah surah Al-Fatihah. Mungkin yang dimaksud adalah surat yang pertama kali turun secara lengkap.

4. Disebutkan pula bahwa yang pertama kali turun adalah bismillaahirrahmaanirrahiim, karena basmalah itu turun mendahului setiap surah. Dalil-dalil kedua pendapat di atas hadis-hadis mursal. Pendapat pertama yang didukung Aisyah itu pendapat yang kuat dan masyhur.

Az-zarkasi telah menyebutkan di dalam kitabnya al-Burhan, hadis Aisyah yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun adalah iqra' bismirabbikalladzii khalaq dan hadis Jabir yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun adalah Yaa ayyuhal muddatstsir, qum faandzir" . Kemudian dia berkata, sebagian besar ulama menyatukan keduanya yaitu bawha Jabir mendengar nabi menyebutkan kisah permulaan wahyu dan dia mendengar bagian akhirnya, sedang bagian pertamanya dia tidak mendengar. maka dia (Jabir) menyangka bawha surah yang didengarnya itu adalah yang pertama kali diturunkan, padahal bukan. Memang surat al-Muddatstsir adalah surah pertama yang diturunkan setelah surah Iqra dan setelah terhentinya wahyu. Hal itu juga termuat dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah saw. di kala sedang membicarakan masalah terhentinya wahyu. di dalam hadis itu dia berkata, "Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit, lalu aku angkat kepalaku tiba-tiba aku melihat malaikat yang mendatangi aku di gua Hira itu duduk di atas kursi antara langit dan bumi, sehingga akupun merasa ketakutan sekali. Kemudian aku pulang dan aku berkata, "Selimuti aku, selimati aku." Lalu Allah menurunkan, "Wahai orang-orang yang berselimut, bangkitlah lalu berilah peringatan."

Dalam hadis ini ia memberitahukan tentang malaikat yang datang kepadanya di gua Hira sebelum saat itu. Di dalam hadis Aisyah ia memberitahukan bahwa turunnya Iqra' itu di gua Hira, dan bahwa Iqra' itulah wahyu pertama yang turun. Kemudian setelah itu wahyu terhenti. Sedang dalam hadis Jabir ia memberitahukan bahwa wahyu berlangsung kembali setelah turunnya Yaa ayyuhal muddatstsir
Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa Iqra adalah wahyu yang pertama kali diturunkan secara mutlak dan bahwa al-Muddatstsir diturunkan sesudah Iqra'.

Demikian juga Ibnu Hibban mengatakan dalam Shahihnya, "Di antara kedua hadis itu tak ada pertentangan. Sebab yang pertama kali diturunkan adalah Iqra' bismirabbikalladzii khalaq di gua Hira. Ketika kembali kepada Khadijah ra. dan khadijah menyiramkakn air dingin kepadanya, Allah menurunkan kepadanya di rumah Khadijah ini Yaa ayyuhal muddatstsir. Maka jelaslah bahwa ketika turun kepada beliau Iqra', ia pulang lalu berselimut , kemudian Allah menurunkah Yaa ayyuhal muddatstsir.

juga ada dikatakan yang pertama kali turun adalah Surah Fatihah. Hadis yang menunjukan hal ini diriwayatkan melalui Abu Ishaq bin Abu Maisrah, dia berkata, Rasulullah saw. mendengar suara, ia berlari. Ia menyebutkan turunnya malaikat kepadanya serta kata-kata malaikat itu, 'Katakanlah
Alhamdulillaahirabbil'aalamin .. dan seterusnya.

Sumber: Studi Ilmu-Ilmu Alquran, Manna' Khalil Qahtan

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Mengawasi Tindakan-Tindakan Bidah dan Para Pengikutnya adalah Kewajiban Agama dan Bukan Perbuatan Zalim


Mengawasi Tindakan-Tindakan Bidah dan Para Pengikutnya adalah Kewajiban Agama dan Bukan Perbuatan Zalim

Orang-orang yang suka membuat berbagai macam tindakan bidah menuduh apa yang dilakukan oleh para salafus saleh, yaitu agar umat berhati-hati dan waspada terhadap mereka dan tindakan-tindakan bidahnya demi menjaga kemurnian agama umat, sebagai suatu tindakan aniaya, permusuhan, merampas kebebasan, teror, dan provokasi.
Di antara tuduhan-tuduhan negatif itu, yang paling kejam adalah tuduhan bahwa kaum salafus saleh Ahli Sunnah wal-Jamaah telah berbuat zalim kepada golongan-golongan lain. Dengan mengingkari tindakan-tindakan bidah dan perkara-perkara yang diada-adakan berarti mereka telah memecah-belah kaum muslimin.

Tuduhan tersebut menunjukkan kebodohan mereka atau mereka pura-pura bodoh. Berdasarkan ketetapan nas yang pasti, seperti halnya umat-umat terdahulu, umat sekarang ini pun akan terbagi menjadi beberapa golongan, dan hanya satu di antara tujuh puluh tiga golongan yang tetap konsisten berada dalam kebenaran, sebagaimana firman Allah Taala, "Tetapi, mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu." (Huud: 118--119).

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya kalian benar-benar akan mengikuti sunah-sunah orang sebelum kalian." (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw. menyuruh agar waspada terhadap tindakan-tindakan bidah, perkara-perkara yang diada-adakan, dan hal-hal yang hanya mengikuti keinginan nafsu serta dapat menimbulkan perpecahan. Beliau memperingatkan supaya hati-hati terhadap para penyeru banyak jalan yang menyesatkan. Allah memerintahkan agar tetap berpegang teguh pada tali-Nya, dan melarang berpecah belah. Dia berfirman, "Dan, berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai berai." (Ali Imran: 103).

Nabi saw. memerintahkan untuk setia pada jamaah dan sunah. Sebaliknya, beliau melarang perpecahan dan bidah. Kaum salafus saleh, yaitu para sahabat, tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, menuruti perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka mempercayai kabar beliau dan memegang teguh pesan beliau. Mereka merasa berkewajiban memberi nasihat kepada kita untuk turut menyebarluaskan dakwah, melarang perbuatan bidah, dan waspada terhadapnya, dan menjaga umat dari hal-hal yang menyesatkan. Mereka juga memenuhi perintah Nabi saw. seperti yang terungkap dalam sabdanya, "Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, dengan lisannya. Dan, jika dia masih tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan, itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR Muslim).

Perbuatan bidah adalah kemungkaran yang paling besar sesudah syirik. Dan, dalam memerangi bidah, salafus saleh telah berjuang semaksimal mungkin. Contohnya, ketika muncul kemurtadan setelah meninggalnya Rasulullah saw., Allah menampilkan Abu Bakar r.a. untuk memeranginya. Dengan gigih dan tegas ia melawan gelombang pemurtadan tersebut, sehingga berkat jasanya dan dukungan sahabat lain yang sepakat membelanya, Allah berkenan memuliakan agama Islam.

Ketika muncul benih-benih bidah pada zaman khalifah Umar bin Khattab r.a. seperti maraknya pembicaraan tentang masalah takdir, dalih yang membela kemaksiatan dan ayat-ayat yang mutasyabih, Umar berusaha meluruskan penyimpangan-penyimpangan tersebut dengan menggunakan tongkatnya yang sangat terkenal. Umar pernah memberikan pelajaran kepada Shabigh karena keberaniannya mempercakapkan ayat-ayat mutasyabihat. Umar pernah memberikan pelajaran kepada seluruh umat Islam ketika muncul keresahan akibat ulah seorang Nasrani aliran Qadariyah yang menyatakan bahwa Allah tidak menyesatkan siapa pun yang dikehendaki. Umar juga pernah memberikan pelajaran kepada seluruh umat dengan menebang pohong di daerah Hudaibiyah yang dianggap keramat oleh banyak orang, karena hal itu bisa minimbulkan perbuatan bidah. Dan, Umar juga pernah melarang orang-orang yang menggunakan tempat-tempat tertentu untuk melakukan ibadah di tempat tersebut yang tidak diberlakukan oleh syariat. Bahkan, Umar pernah membentak Ka'ab al-Ahbar dengan mengatakan, "Kamu menyamai orang-orang Yahudi." Hal itu sewaktu Ka'ab mengusulkan kepadanya untuk salat menghadap ke batu besar di Bait al-Maqdis.

Ali bin Abi Thalib r.a. memberikan pelajaran kepada orang-orang Syiah yang ekstrem. Ia membakar mereka karena mereka dianggap terlalu mengagung-agungkan dan mengultuskan dirinya. Bahkan, ia pernah menghukum cambuk orang-orang Syiah yang berdusta karena menganggap dirinya lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar.
Ketika muncul orang-orang Khawarij, Allah menampilkan sejumlah sahabat yang dipimpin oleh Ali r.a. dan Ibnu Abbas r.a. untuk menghadapi kaum sesat tersebut. Mereka mengemukakan dan menjelaskan argumen-argumen yang mematikan, sehingga akhirnya sebagian orang Khawarij yang memang menginginkan kebenaran sadar dan mau kembali ke jalan yang benar. Sementara, sebagian mereka yang sudah menjadi budak nafsu tetap keras kepala melakukan perbuatan-perbuatan bidah, sehingga untuk mencari pahala dan untuk mematuhi perintah Rasulullah saw., para sahabat memerangi mereka, menghentikan tindakan-tindakan bidah mereka, menyuruh umat agar waspada terhadap mereka, dan melarang bergaul dengan mereka.

Ketika muncul aliran Qadariyah pada paruh kedua abad pertama, sahabat-sahabat muda seperti Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah, dan Watsilah bin al-Asfa' r.a., mereka tampil menghadapinya. Di antara mereka yang paling gigih memerangi aliran sesat itu adalah Abdullah bin Umar. Ia tidak hanya memperingatkan dan menakut-nakuti, tetapi secara blak-blakan membuka aib aliran sesat tersebut. Ia menyuruh kaum muslimin agar berhati-hati terhadap pimpinan aliran tersebut, yaitu Ma'bad al-Juhani dan kawan-kawannya. Ia melarang bergaul dan berhubungan dengan mereka. Demikian pula dengan Ibnu Abbas. Ketika mendengar Ghailan ad-Damsyiqi menyatakan terang-terangan ucapan bidah dalam masalah takdir, sejumlah tabiin tampil menghadapinya. Mereka dipelopori oleh Mujahid, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dan Raihan as-Syam al-Auza'i. Karena Ghailan tetap keras kepala melakukan perbuatan bidah, ia terpaksa dibunuh oleh Hisyam bin Abdul Malik, walaupun para pengikut hawa nafsu menganggap bahwa pembunuhan itu berlatar belakang kepentingan poliltis. Itu adalah masalah niat dalam hati yang hanya diketahui oleh Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib. Tetapi, anggapan mereka itu jelas mencurigai niat baik sekaligus merupakan upaya mengganti hal-hal yang sudah jelas dan dikenal yang berasal dari orang-orang yang bisa dipercaya, dengan dugaan, anggapan, dan hal-hal yang tidak jelas.

Kemudian, ketika kaum Muktazilah yang dipelopori oleh Washil bin Atha dan Amr bin Ubaid melakukan aksinya, maka sejumlah tokoh Ahli Sunnah wal-Jamaah tampil menghadapi mereka, seperti Hasan al-Bashri, Ayyub as-Sakhtayani, Ibnu Aun, Tsabit al-Banani, Ibnu Sirin, Hammad bin Uazid, Malik bin Anas, Abu Hanifah, dan Ibnu al-Mubarak. Ketika kelompok kaum bidah semakin merajalela, sejumlah tokoh pelopor sunah pun tampil menghadapi mereka.

Ketika muncul aliran Rafidhah, untuk menghadapi mereka Allah menampilkan orang-orang seperti As-Sya'bi, As-Syafii, Abdullah bin Idris al-Audi, dan tokoh-tokoh lainnya.

Ketika muncul pentolan aliran Jahmiyah, yaitu Jahm bin Shafwan, sejumlah pemimpin salaf siap menghadapinya, seperti Az-Zuhri, Malik, Abu Hanifah, Abdullah bin Mubarak, dan lain-lain.

Ketika muncul Bisri al-Masiri, tokoh aliran Jahmiyah pada zamannya, ia dihadapi oleh orang-orang seperti Utsman bin Sa'id ad-Darimi, As-Syafii, dan Al-Kanani.

Lalu, ketika muncul perkumpulan orang-orang yang menjadi budak nafsu yang terdiri dari pengikut aliran Jahmiyah, Muktazilah, dan yang lainnya, di bawah pimpinan Ibnu Abu Duat pada zaman Khalifah Al-Makmun dan sesudahnya, tampil menghadapinya tokoh sunah dan pembasmi bidah, Ahmad bin Hambal. Ia menghancurkan mereka sehingga tidak ada yang sanggup bangkit kembali kecuali orang-orang yang bernasib mujur.

Ketika pada abad ketiga, para pengikut aliran Jahmiyah dan Muktazilah yang pernah kocar-kacir sepakat menghimpun kekuatan kembali. Untuk menghadapi mereka, Allah menampilkan Abul Hasan al-Asy'ary yang sangat berpengalaman seluk-beluk mereka, karena ia memang mantan pengikut aliran Muktazilah yang kemudian diberi petunjuk oleh Allah dan bergabung dengan Ahli Sunnah wal-Jamaah. Konon ia berhasil menjebak mereka untuk dihancurkan, sehingga mereka lari kocar-kacir.

Ketika sisa-sisa pengikut aliran Jahmiyah dan Muktazilah mencoba bangkit lagi, dan orang-orang ahli kalam mulai berani berbicara tentang sifat Allah dan iman kepada takdir, mereka dihadapi oleh tokoh-tokoh salaf pada abad keempat dan kelima Hijriah, seperti Al-Barbahari, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Bathah, Al-Harawi, Al-Lalikai, Ibnu Mundat, Al-Malati, As-Shabuni, Al-Ajiri, Ibnu Wadhdhah, Al-Baghawi, Ibnu Abdil Barr, dan lain-lain.

Pada abad keenam, ketujuh, dan kedelapan Hijriah, bencana terjadi di mana-mana akibat berbagai macam tindakan bidah yang hanya menuruti hawa nafsu dan bertujuan menimbulkan perpecahan. Di beberapa negara Islam muncul fanatisme-fanatisme golongan. Kaum sufi dengan bidahnya tidak mau ketinggalan untuk ikut memperkeruh keadaan. Begitu pula dengan para ahli kalam, para filosof, dan aliran batiniah. Akibatnya, negara kaum muslimin di wilayah Syam dan yang lainnya praktis dikuasai oleh orang-orang kafir.

Pada saat itulah Allah menampilkan orang-orang seperti As-Syatibi, Syekh Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, dan Ibnu Rajab. Gembong-gembong bidah dan serdadu-serdadu sesat itu dihadapi oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyah. Ia berjuang di segala medan dengan lisan, pena, dan tangannya. Ia berani menantang para ahli kalam, para filosof, kaum batiniah, kaum sufi, kaum Rafidhah, kaum Yahudi, kaum Nasrani, dan kaum Shabiah.

Syek Islam Ibnu Taimiyah juga berjuang dengan ilmu, lisan, dan pedangnya menghadapi orang-orang kafir Tartar, pasukan salib Kristen, dan para pemberontak. Ia memberikan semangat kepada kaum muslimin untuk berjihad di semua medan. Dalam hal ini ia punya jasa besar dan nyata serta terkenal di mana-mana.

Syek Islam Ibnu Taimiyah adalah seorang penasihat bagi penguasa kaum muslimin. Ia mengingatkan, menasihati, dan menganjurkan mereka untuk berani berjihad. Dengan bijak dan tegas ia suruh mereka untuk mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari yang mungkar. Ia juga menjadi penasihat bagi seluruh kaum muslimin dari lapisan awam sampai para ulama. Ia tekun menyuruh mereka untuk melakukan yang makruf dan melarang mereka dari yang mungkar. Ia dan para pengikutnya gigih menunaikan tugas tersebut. Demi Allah ia tidak merasa takut cercaan orang yang ingin mencerca. Sehingga, dengan jasanya Allah berkenan menampakkan sunah, menolong berkibarnya kembali panji-panji kaum salaf, menelanjangi semua borok atau aib ahli bidah berikut akidah dan manhaj mereka. Dan, sampai ia berhasil menegakkan hujah serta membela agama. Karya dan peninggalannya yang lain sampai sekarang masih dijadikan rujukan oleh setiap orang yang bergelut dalam sunah, dan menjadi sosok yang menakutkan bagi setiap orang yang membela bidah. Di dalam karya-karyanya terdapat permisalan yang begitu signifikan antara yang hak berikut pengikutnya, dan yang batil berikut pengikutnya. Semoga Allah senantiasa merahmatinya, dan memberinya pahala yang terbaik atas jasanya bagi Islam dan kaum muslimin.

Pada abad-abad terakhir, berbagai tindakan yang mengandung bidah dan syirik merajalela di mana-mana. Begitu pula dengan berbagai macam aliran sufi, Maqbariyah, dan tradisi-tradisi jahiliah lainnya. Bahkan, sampai berhasil merambah ke wilayah semenanjung Arab. Hal itu dihadapi oleh seorang tokoh pembela sunah dan pembasmi bidah Syekh Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Sehingga, berkat jasa dakwahnya yang penuh berkah Allah berkenan membersihkan bumi semenanjung Arab, terutama wilayah Hijaz, Najd, dan sekitarnya dari tindakan-tindakan yang mengandung bidah dan syirik, aliran Maqbariyah, dan aliran sufi yang menyesatkan. Dan, juga berkat jasa dakwahnya Allah memberikan manfaat kepada kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Buktinya, sunah dan para pembelanya menjadi berjaya. Para pengikut salaf bersatu dan berhimpun seraya berpegang teguh pada tiang yang sangat kokoh. Sunahlah yang dijadikan dasar bagi berdirinya negara yang melindungi diri dengan menggunakan perpaduan antara senjata dan pena, yakni segara Arab Saudi. Allah membuatnya jaya berkat Islam, dan karenanya Allah menolong sunah serta para pengikutnya.

Alhamdulillah kita masih bisa menyaksikan buah hasil dakwah tersebut di mana-mana kendatipun orang-orang ahli bidah masih tetap serakah dan dengki. Mereka mencaci-maki, mengecam, memfitnah, menampakkan sikap permusuhan, dan menyesatkan manusia dengan berbagai macam cara. Tetapi, Allah pasti akan memenangkan urusannya.

Ketika muncul gerakan yang mencaci-maki kaum salaf pada abad keempat belas yang lalu lewat lesan Al-Kautsariyah yang terang-terangan memusuhi beberapa pemimpin salaf dan mengibarkan bendera perang terbuka dengan mereka, mencurigai mereka dan para pengikutnya, memberi gelar-gelar yang buruk dan melontarkan ucapan-ucapan yang menyakitkan, seperti orang-orang zalim, pengacau, dungu, tolol, jembel, rendah, dan lain-lainnya, saat itulah Allah menampilkan orang-orang seperti Al-Mu'allimi, Al-Albani, Bakar Abu Zaid, dan guru-guru kita yang lain hafidzahumullah.

Ketika muncul perbuatan-perbuatan bidah di beberapa negara yang suci lewat tangan seorang yang mengaku aliran Alawiyah dan para pengikutnya, sejumlah guru dan murid-muridnya berusaha menentangnya. Semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita dan mereka. Guru-guru kita punya jerih payah yang patut disyukuri dalam menghadapi masalah ini. Semoga Allah membantu dan meluruskan langkah-langkah mereka. Dewasa ini muncul para penggali kubur yang berusaha menaburkan hal-hal yang tidak jelas dan membuat bimbang putra-putra kaum muslimin terhadap segala sesuatu yang sudah diyakini kebenarannya. Mereka menggigit para ulama salaf dan mengaduk-aduk kesalahan yang mungkin terdapat pada kitab-kitab karya mereka. Mereka menikam ke sana ke mari di tengah-tengah ulama salaf. Mereka menangisi ketidaksuburan perbuatan-perbuatan bidah yang dapat menimbulkan perpecahan. Mereka menyanjung-nyanjung para pemimpin sesat yang menjadi budak nafsu. Mereka berkali-kali melancarkan serangan terhadap para pemimpin pilihan umat. Sesuai dengan janji Allah yang akan selalu menjaga agama-Nya, kita menunggu siapa yang akan menghadapi gerakan jahat tersebut. Percayalah, Allah yang akan mengatasi kejahatan mereka. Tidak ada daya serta kekuatan sama sekali tanpa pertolongan Allah. Cukuplah Allah bagi kita, dan dia adalah sebaik-baik pemelihara.

Satu hal yang patut diingat adalah bahwa orang-orang yang menjadi budak nafsu, baik dahulu maupun sekarang, selalu merasa gelisah jika ada yang mengingkari perbuatan-perbuatan bidah, menentang para pelakunya, menyuruh yang makruf, dan melarang yang mungkar. Mereka menganggap hal itu--menurut pandangan mereka yang sudah dikuasai nafsu--sebagai tindakan zalim, mencaci maki, pelecehan, kecaman, menghambat kebebasan, dan sikap permusuhan terhadap orang lain yang berseberangan.

Mereka menuduh orang-orang salaf yang melarang bidah dan yang memperingatkan bahayanya dan bahaya para pengikutnya, sebagai orang kafir, atau ahli bidah itu sendiri, atau yang suka usil menyusahkan orang lain, dan lain sebagainya. Semua itu adalah penyesatan dan upaya memutarbalikkan fakta. Apa yang disampaikan oleh orang-orang salaf tersebut merupakan hukum-hukum syariat yang telah berhasil dicetuskan oleh para ulama mujtahid yang jujur untuk orang yang memang secara syariat terkena, sesuai dengan keyakinan mereka. Sangat boleh jadi ada salah seorang di antara mereka yang melakukan kesalahan, tetapi hal itu bukan dari manhaj mereka.

Karena itulah orang-orang yang menjadi budak nafsu mencurigai kaum salaf dengan cara mencaci maki, menghujat, mengutuk, dan lain sebagainya. Menurut persepsi mereka, sebutan kafir, ahli bidah, fasik dan yang lainnya yang ditetapkan oleh orang-orang salaf berdasarkan hukum syariat, adalah sebutan yang mengandung caci maki, kutukan, dan kecaman. Padahal, hal itu adalah sebutan yang proporsional dan tidak mengada-ada. Tetapi, memang begitulah cara yang selalu digunakan oleh musuh-musuh Rasulullah saw. untuk melindungi diri dan memojokkan pihak lain yang mereka benci.

Kita semua tahu bahwa memcaci maki kekufuran, kemusyrikan, bidah, dan kefasikan sangat dianjurkan oleh agama asalkan menggunakan ketentuan-ketentuan syariat. Hal itu diterangkan dalam kitab Allah dan sunah Rasul-Nya saw. Selain menyuruh mengesakan Allah, Nabi saw. sekaligus melarang mempersekutukan-Nya, dan mengecam penyembahan kepada berbagai macam berhala. Ketika Nabi saw. melarang perbuatan syirik, kaum musyrikin mengatakan bahwa beliau telah mencaci maki tuhan-tuhan mereka. Tetapi, itu adalah salah satu caci maki yang dianjurkan, dan menjadi salah satu pilar penting bagi tegaknya agama sepanjang zaman.

Sumber: Hiraasah al-Aqidah, Nashir ibn Abdul Karim al-Aql

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Bahaya Kagum Kepada Diri Sendiri


Bahaya Kagum Kepada Diri Sendiri


"Dan pada perang Hunain, ketika kamu kagum(bangga) oleh banyaknya jumlahmu, lantas hal itu tidak memberi manfaat sedikit pun kepadamu."
(At-Taubah: 25)
Ayat ini menjelaskan tentang kekaguman kaum muslimin terhadap jumlah pasukannya saat hendak berangkat ke perang Hunain. Catatan sejarah menyebutkan, jumlah kaum muslimin saat itu mencapai 12 ribu orang. 10.000 adalah mereka yang berangkat bersama Rasulullah saw. untuk menaklukan kota Mekah, sedangkan yang 2.000 adalah mereka yang baru saja menyatakan keislamannya. Sehingga, dengan besarnya jumlah mereka ini, sebagian dari mereka ada yang berkata, "Kita tidak akan dikalahkan, kita pasti menang."
Dalam bahasa Arab kata kagum diterjemahkan dengan i'jab yang juga berarti senang, gembira, menganggap baik, di samping tentu saja kagum. Sedangkan menurut dai atau aktivis i'jab adalah kagum atau membanggakan diri dari segala sesuatu yang timbul darinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, dengan tidak berbuat melampaui batas terhadap orang lain, baik perkataan atau perbuatan itu bagus maupun buruk, terpuji maupun tercela.

Kekaguman ini memiliki dampak yang berbahaya, baik bagi aktivis maupun bagi amal Islam sendiri.
Bagi aktivis, kagum kepada diri sendiri itu memiliki bahaya, di antaranya:
1.      Menjadikannya terpedaya, bahkan takabbur.
Hal ini disebabkan kekaguman kepada diri sendiri membuatnya tak mau meneliti kekurangan-kekurangannya, yang selanjutnya akan meremehkan dan merendahkan apa saja yang datang dari orang lain. Dan inilah yang dinamakan dengan takabuur, yaitu meremehkan orang lain. Padahal, takabbur ini sendiri juga merupakan salah satu dari dosa besar.
2.      Terhalang dari petunjuk Allah.
Hal ini karena orang yang kagum kepada diri sendiri menyandarkan segala sesuatu kepada kemampuan dirinya semata-mata dengan melupakan atau pura-pura lupa kepada Khalik, Pencipta, Pengatur Urusan, Pemberi Nikmat lahir maupun batin yaitu, Allah SWT..Orang seperti ini akan menjadi hina dengan sendirinya, dan tidak memperoleh taufik dalam semua hal yang ia kerjakan dan yang ia tinggalkan.
3.      Hancur berantakan ketika menghadapi ujian dan kesulitan.
Hal ini disebabkan orang yang kagum kepada diri sendiri tidak pernah menyucikan dirinya dan tidak mempersiapkan bekal untuk perjalanan hidupnya. Orang seperti ini akan hancur, lemah lunglai ketika pertama kali menghadapi kesulitan atau cobaan. Sebab, dia tidak mengenal Allah ketika halangan, sehingga Allah tidak mengenalnya ketika ia menghadapi kesulitan. Maha benar Allah yang berfirman yang artinya, "Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang takwa dan orang-orang yang berbuat ihsan (berbuat kebajikan dengan merasa selalu diawasi Allah)." (An-Nahl: 128)
4.      Ditinggalkan dan dibenci orang lain.
Hal ini disebabkan orang yang kagum dengan dirinya sendiri berarti dengan perbuatannya itu ia menjadikan dirinya dibenci Allah dan barang siapa yang dibenci Allah, maka Allah akan menjadikan penduduk langit benci kepadanya. Dan selanjutnya kebencian itu digelar kepada penduduk bumi, sehingga Anda lihat orang-orang meninggalkannya, berlari darinya, membencinya, tidak mau melihatnya, dan tidak mau mendengar suaranya.

Adapun akibat kagum kepada diri sendiri terhadap amal Islami di antaranya adalah:pertama, mudah rusak, tidak dapat menghasilkan buah melainkan sesudah menghabiskan tenaga yang banyak dan memakan waktu yang panjang. Kedua, terhaentinya amal Islami, atau setidak-tidaknya sulit mendapatkan dukungan, karena orang-orang lari dan benci kepada para aktivisnya yang kagum kepada diri sendiri.
Itulah beberapa bahaya dari kagum kepada diri sendiri. Karena itu marilah kita mewaspadainya.

Edisi:  Jum’at (12 Juni 2008)

Rabu, 11 April 2012

Syiah


Syiah

Menurut bahasa, kata Syiah berarti pendukung. Seperti Syiah Ali berarti pendukung Ali, Syiah Muawiyah berarti pendukung Muawiyah.
Pada dasarnya di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali belum ada Syiah yang berarti aliran secara resmi, sekalipun nama itu telah ada dan berkumandang, seperti pada saat pemilihan khalifah ke III, yaitu Utsman bin Affan ada sekelompuok masyarakat yang mendukung Ali bin Abu Thalib, tetapi setelah umat Islam memutuskan memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab r.a., maka yang tadinya kelompok yang mendukung Ali bersatu untuk mendukung Utsman bin Affan r.a., sebagai Khalifah, termasuk Ali bin Abu Thalib r.a. Dengan demikian, sejarah organisasi atau aliran yang bernama Syiah pada saat itu secara resmi belum ada.

Dalam kitab At-Ta'rifat disebutkan bahwa Syiah adalah mereka yang mendukung Ali bin Abu Thalib r.a. sebagai khalifah, dan mereka mengatakan bahwa kepemimpinan tidak akan keluar dari Imam Ali dan cucu-cucunya.

Awal Munculnya Syiah
Setelah terjadi perang saudara antara Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah, maka mulailah muncul nama Syiah sebagai nama sebuah aliran atau golongan, yang saat itu kelompok Syiah adalah suatu kelompok yang sangat gigih membela Khalifah Ali bin Abu Thalib, sekalipun kelompok Muawiyah juga disebut Syiah dalam arti pembela atau pendukung Muawiyah dan bukan nama sebuah kelompok atau aliran resmi. Hal itu terbukti bahwa dalam pelaksanaan perjanjian "Tahkim" di mana di dalam perjanjian itu disebutkan bahwa apabila orang yang ditentukan itu berhalangan, maka diisi oleh orang-orang dari Syiah masing-masing, namun kedua kelompok itu, baik Syiah Ali atau Muawiyah sama-sama Ahli Sunnah wal-Jamaah, mereka mengikuti ajaran Nabi saw. secara utuh tanpa membuat-buat ajaran sendiri, seperti yang terjadi pada aliran-aliran Syiah saat ini, yang ajarannya merupakan racikan sendiri, sekalipun ada sekelompok Syiah yang masih berpegang teguh dengan ajaran Allah dan rasul-Nya secara utuh.

Firqah-Firqah Syiah
Secara umum kelompok Syiah dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar. Sebab firqah-firqah Syiah yang jumlahnya mencapai ratusan dan sebagian riwayat menyebutkan sampai 300 aliran itu semua bermuara dari empat kelompok besar tersebut.

Syiah Al-Mukhlashin
Yaitu kelompok Syiah yang pada saat Ali bin Abu Thalib menjadi khalifah telah ada, mereka ini terdiri dari kalangan muhajirin dan anshar yang mendukung Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah, mereka tidak mengafirkan, mencaci, menghina, dan membenci s-ahabat, mereka juga berpegang teguh dengan ajaran Allah dan rasulNya secara utuh dan tidak membuat ajaran sendiri, tidak menambah, mengurangi, mengubah, atau memalsukan ajaran Islam.

Syiah Tafdliliyah
Yaitu kelompok Syiah yang sepenuhnya mendukung Khalifah Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah, melebihi sahabat Nabi saw. lainnya, namun mereka juga tidak mengafirkan, mencaci, menghina, atau membenci para sahabat Nabi saw., seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Syiah As-Sab'iyah
Kelompok Syiah ini juga disebut Syiah At-Tabri'iyah. Kelompok Syiah inilah yang mengafirkan, mencaci, dan menghina sahabat Nabi saw., seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka berlebihan dalam memuji sahabat Ali dan membelanya dan bahkan ada yang menganggap bahwa Ali bin Abu Thalib adalah nabi, ada pula yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan.

Syiah Ghulat
Yaitu kelompok Syiah yang mengatakan secara terang-terangan bahwa Ali bin Abu Thalib adalah Tuhan, bahkan Al-Jahd mengatakan bahwa roh Allah adalah roh Ali bin Abu Thalib. Kelompok Syiah ini pecah menjadi 24 golongan.

Perpecahan di Tubuh Syiah
Berpangkal dari empat kelompok besar tersebut, Syiah pecah menjadi puluhan bahkan ratusan golongan, dan tiap-tiap golongan mempunyai ajaran yang kadang-kadang berbeda akidah dan syariatnya antara satu dengan yang lainnya. Ada yang jauh dari ajaran Islam dan ada yang masih berpegang teguh dengan ajaran Islam secara utuh, ada pula yang mencampuradukkan antara ajaran Islam dengan ajaran para imam mereka. Lain dari itu, tidak semua kelompok Syiah dapat berkembang sampai saat ini, hanya ada beberapa kelompok Syiah yang sampai saat ini masih eksis, seperti Syiah Imamiyah yang saat ini berkembang di berbagai negara Islam di dunia ini. Sebagai contoh adanya perpecahan di tubuh Syiah adalah perpecahan yang terjadi di tubuh Syiah Saba'iyah dan Syiah Ghulat.

Syiah Ghulat
Syiah Ghulat adalah kelompok Syiah yang berlebihan dalam memuja Sayidina Ali bin Abu Thalib, bahkan menganggapnya sebagai Tuhan dan roh Allah adalah roh Ali. Kelompok Syiah ini pecah menjadi 24 golongan.

1.      Syiah Saba'iyah
Adalah kelompok Syiah yang dinahkodai oleh Abdullah bin Saba', salah seorang Yahudi tulen yang mengaku dan pura-pura masuk Islam. Mereka menganggap bahwa Ali bin Abu Thalib adalah Tuhan, bahkan pada saat Ali r.a. wafat ia mengatakan bahwa Ali bin Abu Thalib belum meninggal dan tidak akan meninggal.

2.      Syiah Al-Mufadliliyah
Yaitu kelompok Syiah yang dipimpin oleh Mufadlal as-Saifary. Mereka bekeyakinan bahwa amir atau imam atau khalifah derajatnya sama dengan derajat nabi, mereka mempunyai otoritas ketuhanan.

3.      Syiah As-Sarighiyah
Yaitu kelompok Syiah yang sepaham dengan Syiah Al-Mufadliliyah.

4.      Syiah Al-Bazi'iyah
Yaitu kelompok Syiah di bawah kepemimpinan Bazi' bin Yunus, mereka meyakini bahwa Imam Ja'far ash-Shadiq adalah Tuhan.

5.      Syiah Al-Kamiliyah
Yaitu kelompok Syiah yang dipelopori oleh Abu Kamil. Mereka meyakini bahwa orang yang telah meninggal dunia rohnya dapat berpindah-pindah kepada orang lain.

6.      Syiah Mughayiriyah
Yaitu kelompok Syiah pimpinan Mughirah bin Sa'id al-Ajaly. Mereka berkeyakinan bahwa Allah berjasad dan berwujud sebagai seorang laki-laki.

7.      Syiah Jinahiyah
Syiah kelompok ini dipimpin oleh Abdullah bin Mu'awiyah bin Abdullah bin Ja'far Dzil Janahaini. Mereka berkeyakinan bahwa roh manusia dapat berpindah-pindah dan pada mulanya roh Allah adalah Nabi Adam.

8.      Syiah Al-Bayaniyah
Yaitu kelompok Syiah pimpinan Bayan bin Sam'an at-Tamimi. Mereka berkeyakinan bahwa Allah berwujud seperti manusia.
9.      Syiah Al-Manshuriyah
Yaitu kelompok Syiah piminan Abu Manshur al-Ajaly. Mereka berkeyakinan bahwa kenabian dan kerasulan tidak terputus selamanya.

10.  Syiah Al-Ghamamiyah
Syiah Al-Ghamamiyah juga disebut Syiah Ar-Rabi'iyah. Mereka berkeyakinan bahwa Allah setiap musim semi turun ke tiga bumi dalam keadaan terhalang oleh awan dan berputar-putar mengelilingi dunia kemudian naik ke langit lagi.

11.  Syiah Al-Imamiyah
Yaitu kelompok Syiah yang menganggap bahwa kedudukan imam atau amir atau khalifah sama dengan nabi, mereka berhak untuk membuat ajaran atau syariat. Syiah jenis inilah yang saat ini berkembang biak dan maju pesat yang dewasa ini telah tersebar ke berbagai negara-negara di belahan dunia ini, termasuk di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan lain-lain, lebih-lebih di Timur Tengah dan khususnya di Iran yang merupakan basis perkembangan Syiah Imamiyah.

12.  Syiah At-Tafwidliyah
Yaitu krlompok Syiah yang beranggapan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad saw kemudian memerintahkan-Nya menciptakan isinya.

13.  Syiah Khattabiyah
Yaitu kelompok Syiah pimpinan Abu Khattab al-Asady. Mereka berkeyakinan bahwa para imam atau amir mereka adalah nabi.

14.  Syiah Al-Ma'damariyah
Yaitu Syiah kelompok Al-Ma'mar. Mereka berkeyakinan bahwa Imam Ja'af ash-Shadiq adalah nabi.

15.  Syiah Al-Ghurabiyah
Yaitu kelompok Syiah yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. sama wajah dan postur tubuhnya seperti Ali bin Abu Thalib, laksana burung gagak dengan burung gagak. Dan, pada saat Allah mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Ali bin Abu Thalib salah alamat kepada Muhammad saw. karena raut wajahnya yang sama, sehingga Jibril tidak dapat membedakannya, maka jadilah Nabi Muhammad saw. sebagai nabi yang seharusnya adalah Ali yang menjadi nabi.

16.  Syiah Zubabiyah
Adalah kelompok Syiah yang termasuk bagian dari Syiah Al-Ghurabiyah, hanya saja mereka mengatakan dan meyakini bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi dan kenabiannya bukan karena Jibril pada saat memberikan wahyu salah alamat, memang Nabi Muhammadlah yang diutus oleh Allah sebagai nabi dan bukan Ali.

17.  Syiah Adz-Dzammiyah
Yaitu kelompok Syiah yang selalu mencaci-maki dan menghina Nabi Muhammad saw., karena menurut mereka yang berhak menjadi nabi adalah Ali bin Abu Thalib dan bukan Muhammad.

18.  Syiah Al-Itsniyaniyah
Kelompok Syiah ini termasuk Syiah Adz-Dzammiyah, hanya bedanya Syiah ini menganggap bahwa Nabi Muhammad saw. adalah Tuhan dan bukan nabi.

19.  Syiah Al-Khamsiyah
Yaitu kelompok Syiah yang juga termasuk bagian dari Syiah Dzammiyah, mereka menganggap bahwa Nabi Muhammad saw., Ali bin Abu Thalib, Fatimah, Hasan, dan Husein adalah Tuhan.

20.  Syiah An-Nusairiyah
Yaitu kelompok Syiah yang berkeyakinan bahwa Allah menitis kepada Ali bin Abu Thalib dan anak-anaknya.

21.  Syiah Al-Ishaqiyah
Yaitu kelompok Syiah yang berkeyakinan bahwa roh Tuhan menitis kepada Ali bin Abu Thalib, namun mereka berselisih paham, setelah Ali meninggal dunia roh Tuhan tersebut menitis kepada siapa saja.

22.  Syiah Al-Albaiyah
Yaitu kelompok Syiah pimpinan Al-Ba' bin Arwa' al-Asady. Mereka berkeyakinan bahwa amir atau imam mereka adalah Tuhan dan derajatnya sama dengan Tuhan dan bahkan lebih tinggi daripada nabi.

23.  Syiah Ar-Razamiyah
Yaitu kelompok Syiah yang dipimpin oleh Muhammad bin Al-Hanafiyah dan setelah meninggal digantikan oleh putranya, kemudian diganti oleh Ali bin Abdullah bin Al-Abbas, kemudian diganti oleh putranya Abu Al-Manshur. Mereka berkeyakinan bahwa Allah menitis kepada Abu Muslim, dan meyakini bahwa Abu Muslim tidak akan meninggal dunia selama-lamanya.

24.  Syiah Al-Muqannaiyah
Yaitu kelompok Syiah yang dipimpin oleh Al-Muqanna'. Para pengikutnya meyakini bahwa Al-Muqanna' adalah Tuhan, setelah meninggalnya Al-Husain. Wallaahu a'lam
      Sumber: Mengenal Aliran-Aliran Islam dan Ciri-Ciri Ajarannya, Drs. Muhammad Sufyan Raji Abdullah, Lc

Buku Mengenal Aliran-Aliran Islam dan Ciri-Ciri Ajarannya oleh Drs. Muhammad Sufyan Raji Abdullah, Lc telah diterbitkan oleh penerbit LPPI Riyadhus Shalihin, Jln. Curug Cempaka Blok III, No. 97, Jatiwaringin, Pondok Gede, Telp. (021) 8618791, Jakarta)

Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia