Mengawasi
Tindakan-Tindakan Bidah dan Para Pengikutnya adalah Kewajiban Agama dan Bukan
Perbuatan Zalim
Orang-orang yang suka
membuat berbagai macam tindakan bidah menuduh apa yang dilakukan oleh para
salafus saleh, yaitu agar umat berhati-hati dan waspada terhadap mereka dan
tindakan-tindakan bidahnya demi menjaga kemurnian agama umat, sebagai suatu
tindakan aniaya, permusuhan, merampas kebebasan, teror, dan provokasi.
Di antara tuduhan-tuduhan
negatif itu, yang paling kejam adalah tuduhan bahwa kaum salafus saleh Ahli
Sunnah wal-Jamaah telah berbuat zalim kepada golongan-golongan lain. Dengan
mengingkari tindakan-tindakan bidah dan perkara-perkara yang diada-adakan
berarti mereka telah memecah-belah kaum muslimin.
Tuduhan tersebut menunjukkan kebodohan mereka atau mereka pura-pura bodoh.
Berdasarkan ketetapan nas yang pasti, seperti halnya umat-umat terdahulu, umat
sekarang ini pun akan terbagi menjadi beberapa golongan, dan hanya satu di
antara tujuh puluh tiga golongan yang tetap konsisten berada dalam kebenaran,
sebagaimana firman Allah Taala, "Tetapi, mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali
orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu." (Huud: 118--119).
Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya kalian benar-benar akan mengikuti
sunah-sunah orang sebelum kalian." (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. menyuruh agar waspada terhadap tindakan-tindakan bidah,
perkara-perkara yang diada-adakan, dan hal-hal yang hanya mengikuti keinginan
nafsu serta dapat menimbulkan perpecahan. Beliau memperingatkan supaya
hati-hati terhadap para penyeru banyak jalan yang menyesatkan. Allah
memerintahkan agar tetap berpegang teguh pada tali-Nya, dan melarang berpecah
belah. Dia berfirman, "Dan, berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama)
Allah, dan jangan kamu bercerai berai." (Ali Imran: 103).
Nabi saw. memerintahkan untuk setia pada jamaah dan sunah. Sebaliknya, beliau
melarang perpecahan dan bidah. Kaum salafus saleh, yaitu para sahabat, tabiin,
dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, menuruti perintah Allah dan
Rasul-Nya. Mereka mempercayai kabar beliau dan memegang teguh pesan beliau.
Mereka merasa berkewajiban memberi nasihat kepada kita untuk turut
menyebarluaskan dakwah, melarang perbuatan bidah, dan waspada terhadapnya, dan
menjaga umat dari hal-hal yang menyesatkan. Mereka juga memenuhi perintah Nabi
saw. seperti yang terungkap dalam sabdanya, "Barang siapa di antara kalian melihat suatu
kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu,
dengan lisannya. Dan, jika dia masih tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan, itu
adalah selemah-lemahnya iman." (HR Muslim).
Perbuatan bidah adalah kemungkaran yang paling besar sesudah syirik. Dan, dalam
memerangi bidah, salafus saleh telah berjuang semaksimal mungkin. Contohnya,
ketika muncul kemurtadan setelah meninggalnya Rasulullah saw., Allah
menampilkan Abu Bakar r.a. untuk memeranginya. Dengan gigih dan tegas ia
melawan gelombang pemurtadan tersebut, sehingga berkat jasanya dan dukungan
sahabat lain yang sepakat membelanya, Allah berkenan memuliakan agama Islam.
Ketika muncul benih-benih bidah pada zaman khalifah Umar bin Khattab r.a.
seperti maraknya pembicaraan tentang masalah takdir, dalih yang membela
kemaksiatan dan ayat-ayat yang mutasyabih, Umar berusaha meluruskan penyimpangan-penyimpangan
tersebut dengan menggunakan tongkatnya yang sangat terkenal. Umar pernah
memberikan pelajaran kepada Shabigh karena keberaniannya mempercakapkan
ayat-ayat mutasyabihat. Umar pernah memberikan pelajaran kepada seluruh umat
Islam ketika muncul keresahan akibat ulah seorang Nasrani aliran Qadariyah yang
menyatakan bahwa Allah tidak menyesatkan siapa pun yang dikehendaki. Umar juga
pernah memberikan pelajaran kepada seluruh umat dengan menebang pohong di
daerah Hudaibiyah yang dianggap keramat oleh banyak orang, karena hal itu bisa
minimbulkan perbuatan bidah. Dan, Umar juga pernah melarang orang-orang yang
menggunakan tempat-tempat tertentu untuk melakukan ibadah di tempat tersebut
yang tidak diberlakukan oleh syariat. Bahkan, Umar pernah membentak Ka'ab
al-Ahbar dengan mengatakan, "Kamu menyamai orang-orang Yahudi." Hal
itu sewaktu Ka'ab mengusulkan kepadanya untuk salat menghadap ke batu besar di
Bait al-Maqdis.
Ali bin Abi Thalib r.a. memberikan pelajaran kepada orang-orang Syiah yang ekstrem.
Ia membakar mereka karena mereka dianggap terlalu mengagung-agungkan dan
mengultuskan dirinya. Bahkan, ia pernah menghukum cambuk orang-orang Syiah yang
berdusta karena menganggap dirinya lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar.
Ketika muncul orang-orang
Khawarij, Allah menampilkan sejumlah sahabat yang dipimpin oleh Ali r.a. dan
Ibnu Abbas r.a. untuk menghadapi kaum sesat tersebut. Mereka mengemukakan dan
menjelaskan argumen-argumen yang mematikan, sehingga akhirnya sebagian orang
Khawarij yang memang menginginkan kebenaran sadar dan mau kembali ke jalan yang
benar. Sementara, sebagian mereka yang sudah menjadi budak nafsu tetap keras
kepala melakukan perbuatan-perbuatan bidah, sehingga untuk mencari pahala dan
untuk mematuhi perintah Rasulullah saw., para sahabat memerangi mereka,
menghentikan tindakan-tindakan bidah mereka, menyuruh umat agar waspada
terhadap mereka, dan melarang bergaul dengan mereka.
Ketika muncul aliran Qadariyah pada paruh kedua abad pertama, sahabat-sahabat
muda seperti Abdullah bin Umar, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah, dan Watsilah
bin al-Asfa' r.a., mereka tampil menghadapinya. Di antara mereka yang paling
gigih memerangi aliran sesat itu adalah Abdullah bin Umar. Ia tidak hanya
memperingatkan dan menakut-nakuti, tetapi secara blak-blakan membuka aib aliran
sesat tersebut. Ia menyuruh kaum muslimin agar berhati-hati terhadap pimpinan
aliran tersebut, yaitu Ma'bad al-Juhani dan kawan-kawannya. Ia melarang bergaul
dan berhubungan dengan mereka. Demikian pula dengan Ibnu Abbas. Ketika
mendengar Ghailan ad-Damsyiqi menyatakan terang-terangan ucapan bidah dalam
masalah takdir, sejumlah tabiin tampil menghadapinya. Mereka dipelopori oleh
Mujahid, Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dan Raihan as-Syam al-Auza'i. Karena
Ghailan tetap keras kepala melakukan perbuatan bidah, ia terpaksa dibunuh oleh
Hisyam bin Abdul Malik, walaupun para pengikut hawa nafsu menganggap bahwa
pembunuhan itu berlatar belakang kepentingan poliltis. Itu adalah masalah niat
dalam hati yang hanya diketahui oleh Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui hal-hal
yang gaib. Tetapi, anggapan mereka itu jelas mencurigai niat baik sekaligus
merupakan upaya mengganti hal-hal yang sudah jelas dan dikenal yang berasal
dari orang-orang yang bisa dipercaya, dengan dugaan, anggapan, dan hal-hal yang
tidak jelas.
Kemudian, ketika kaum Muktazilah yang dipelopori oleh Washil bin Atha dan Amr
bin Ubaid melakukan aksinya, maka sejumlah tokoh Ahli Sunnah wal-Jamaah tampil
menghadapi mereka, seperti Hasan al-Bashri, Ayyub as-Sakhtayani, Ibnu Aun,
Tsabit al-Banani, Ibnu Sirin, Hammad bin Uazid, Malik bin Anas, Abu Hanifah,
dan Ibnu al-Mubarak. Ketika kelompok kaum bidah semakin merajalela, sejumlah
tokoh pelopor sunah pun tampil menghadapi mereka.
Ketika muncul aliran Rafidhah, untuk menghadapi mereka Allah menampilkan
orang-orang seperti As-Sya'bi, As-Syafii, Abdullah bin Idris al-Audi, dan
tokoh-tokoh lainnya.
Ketika muncul pentolan aliran Jahmiyah, yaitu Jahm bin Shafwan, sejumlah
pemimpin salaf siap menghadapinya, seperti Az-Zuhri, Malik, Abu Hanifah,
Abdullah bin Mubarak, dan lain-lain.
Ketika muncul Bisri al-Masiri, tokoh aliran Jahmiyah pada zamannya, ia dihadapi
oleh orang-orang seperti Utsman bin Sa'id ad-Darimi, As-Syafii, dan Al-Kanani.
Lalu, ketika muncul perkumpulan orang-orang yang menjadi budak nafsu yang
terdiri dari pengikut aliran Jahmiyah, Muktazilah, dan yang lainnya, di bawah
pimpinan Ibnu Abu Duat pada zaman Khalifah Al-Makmun dan sesudahnya, tampil
menghadapinya tokoh sunah dan pembasmi bidah, Ahmad bin Hambal. Ia menghancurkan
mereka sehingga tidak ada yang sanggup bangkit kembali kecuali orang-orang yang
bernasib mujur.
Ketika pada abad ketiga, para pengikut aliran Jahmiyah dan Muktazilah yang
pernah kocar-kacir sepakat menghimpun kekuatan kembali. Untuk menghadapi mereka,
Allah menampilkan Abul Hasan al-Asy'ary yang sangat berpengalaman seluk-beluk
mereka, karena ia memang mantan pengikut aliran Muktazilah yang kemudian diberi
petunjuk oleh Allah dan bergabung dengan Ahli Sunnah wal-Jamaah. Konon ia
berhasil menjebak mereka untuk dihancurkan, sehingga mereka lari kocar-kacir.
Ketika sisa-sisa pengikut aliran Jahmiyah dan Muktazilah mencoba bangkit lagi,
dan orang-orang ahli kalam mulai berani berbicara tentang sifat Allah dan iman
kepada takdir, mereka dihadapi oleh tokoh-tokoh salaf pada abad keempat dan
kelima Hijriah, seperti Al-Barbahari, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Bathah, Al-Harawi,
Al-Lalikai, Ibnu Mundat, Al-Malati, As-Shabuni, Al-Ajiri, Ibnu Wadhdhah,
Al-Baghawi, Ibnu Abdil Barr, dan lain-lain.
Pada abad keenam, ketujuh, dan kedelapan Hijriah, bencana terjadi di mana-mana
akibat berbagai macam tindakan bidah yang hanya menuruti hawa nafsu dan
bertujuan menimbulkan perpecahan. Di beberapa negara Islam muncul
fanatisme-fanatisme golongan. Kaum sufi dengan bidahnya tidak mau ketinggalan
untuk ikut memperkeruh keadaan. Begitu pula dengan para ahli kalam, para
filosof, dan aliran batiniah. Akibatnya, negara kaum muslimin di wilayah Syam
dan yang lainnya praktis dikuasai oleh orang-orang kafir.
Pada saat itulah Allah menampilkan orang-orang seperti As-Syatibi, Syekh Islam
Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Adz-Dzahabi,
Ibnu Katsir, dan Ibnu Rajab. Gembong-gembong bidah dan serdadu-serdadu sesat
itu dihadapi oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyah. Ia berjuang di segala medan dengan
lisan, pena, dan tangannya. Ia berani menantang para ahli kalam, para filosof,
kaum batiniah, kaum sufi, kaum Rafidhah, kaum Yahudi, kaum Nasrani, dan kaum
Shabiah.
Syek Islam Ibnu Taimiyah juga berjuang dengan ilmu, lisan, dan pedangnya
menghadapi orang-orang kafir Tartar, pasukan salib Kristen, dan para
pemberontak. Ia memberikan semangat kepada kaum muslimin untuk berjihad di
semua medan. Dalam hal ini ia punya jasa besar dan nyata serta terkenal di
mana-mana.
Syek Islam Ibnu Taimiyah adalah seorang penasihat bagi penguasa kaum muslimin.
Ia mengingatkan, menasihati, dan menganjurkan mereka untuk berani berjihad.
Dengan bijak dan tegas ia suruh mereka untuk mengerjakan yang makruf dan
melarang mereka dari yang mungkar. Ia juga menjadi penasihat bagi seluruh kaum
muslimin dari lapisan awam sampai para ulama. Ia tekun menyuruh mereka untuk
melakukan yang makruf dan melarang mereka dari yang mungkar. Ia dan para
pengikutnya gigih menunaikan tugas tersebut. Demi Allah ia tidak merasa takut
cercaan orang yang ingin mencerca. Sehingga, dengan jasanya Allah berkenan
menampakkan sunah, menolong berkibarnya kembali panji-panji kaum salaf,
menelanjangi semua borok atau aib ahli bidah berikut akidah dan manhaj mereka.
Dan, sampai ia berhasil menegakkan hujah serta membela agama. Karya dan
peninggalannya yang lain sampai sekarang masih dijadikan rujukan oleh setiap
orang yang bergelut dalam sunah, dan menjadi sosok yang menakutkan bagi setiap
orang yang membela bidah. Di dalam karya-karyanya terdapat permisalan yang
begitu signifikan antara yang hak berikut pengikutnya, dan yang batil berikut
pengikutnya. Semoga Allah senantiasa merahmatinya, dan memberinya pahala yang
terbaik atas jasanya bagi Islam dan kaum muslimin.
Pada abad-abad terakhir, berbagai tindakan yang mengandung bidah dan syirik
merajalela di mana-mana. Begitu pula dengan berbagai macam aliran sufi,
Maqbariyah, dan tradisi-tradisi jahiliah lainnya. Bahkan, sampai berhasil
merambah ke wilayah semenanjung Arab. Hal itu dihadapi oleh seorang tokoh
pembela sunah dan pembasmi bidah Syekh Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan
para pengikutnya. Sehingga, berkat jasa dakwahnya yang penuh berkah Allah
berkenan membersihkan bumi semenanjung Arab, terutama wilayah Hijaz, Najd, dan sekitarnya
dari tindakan-tindakan yang mengandung bidah dan syirik, aliran Maqbariyah, dan
aliran sufi yang menyesatkan. Dan, juga berkat jasa dakwahnya Allah memberikan
manfaat kepada kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Buktinya, sunah dan para
pembelanya menjadi berjaya. Para pengikut salaf bersatu dan berhimpun seraya
berpegang teguh pada tiang yang sangat kokoh. Sunahlah yang dijadikan dasar
bagi berdirinya negara yang melindungi diri dengan menggunakan perpaduan antara
senjata dan pena, yakni segara Arab Saudi. Allah membuatnya jaya berkat Islam,
dan karenanya Allah menolong sunah serta para pengikutnya.
Alhamdulillah kita masih bisa menyaksikan buah hasil dakwah tersebut di
mana-mana kendatipun orang-orang ahli bidah masih tetap serakah dan dengki.
Mereka mencaci-maki, mengecam, memfitnah, menampakkan sikap permusuhan, dan
menyesatkan manusia dengan berbagai macam cara. Tetapi, Allah pasti akan
memenangkan urusannya.
Ketika muncul gerakan yang mencaci-maki kaum salaf pada abad keempat belas yang
lalu lewat lesan Al-Kautsariyah yang terang-terangan memusuhi beberapa pemimpin
salaf dan mengibarkan bendera perang terbuka dengan mereka, mencurigai mereka
dan para pengikutnya, memberi gelar-gelar yang buruk dan melontarkan
ucapan-ucapan yang menyakitkan, seperti orang-orang zalim, pengacau, dungu,
tolol, jembel, rendah, dan lain-lainnya, saat itulah Allah menampilkan
orang-orang seperti Al-Mu'allimi, Al-Albani, Bakar Abu Zaid, dan guru-guru kita
yang lain hafidzahumullah.
Ketika muncul perbuatan-perbuatan bidah di beberapa negara yang suci lewat
tangan seorang yang mengaku aliran Alawiyah dan para pengikutnya, sejumlah guru
dan murid-muridnya berusaha menentangnya. Semoga Allah memberikan pertolongan
kepada kita dan mereka. Guru-guru kita punya jerih payah yang patut disyukuri
dalam menghadapi masalah ini. Semoga Allah membantu dan meluruskan
langkah-langkah mereka. Dewasa ini muncul para penggali kubur yang berusaha
menaburkan hal-hal yang tidak jelas dan membuat bimbang putra-putra kaum
muslimin terhadap segala sesuatu yang sudah diyakini kebenarannya. Mereka
menggigit para ulama salaf dan mengaduk-aduk kesalahan yang mungkin terdapat
pada kitab-kitab karya mereka. Mereka menikam ke sana ke mari di tengah-tengah
ulama salaf. Mereka menangisi ketidaksuburan perbuatan-perbuatan bidah yang
dapat menimbulkan perpecahan. Mereka menyanjung-nyanjung para pemimpin sesat
yang menjadi budak nafsu. Mereka berkali-kali melancarkan serangan terhadap
para pemimpin pilihan umat. Sesuai dengan janji Allah yang akan selalu menjaga
agama-Nya, kita menunggu siapa yang akan menghadapi gerakan jahat tersebut.
Percayalah, Allah yang akan mengatasi kejahatan mereka. Tidak ada daya serta
kekuatan sama sekali tanpa pertolongan Allah. Cukuplah Allah bagi kita, dan dia
adalah sebaik-baik pemelihara.
Satu hal yang patut diingat adalah bahwa orang-orang yang menjadi budak nafsu,
baik dahulu maupun sekarang, selalu merasa gelisah jika ada yang mengingkari
perbuatan-perbuatan bidah, menentang para pelakunya, menyuruh yang makruf, dan
melarang yang mungkar. Mereka menganggap hal itu--menurut pandangan mereka yang
sudah dikuasai nafsu--sebagai tindakan zalim, mencaci maki, pelecehan, kecaman,
menghambat kebebasan, dan sikap permusuhan terhadap orang lain yang
berseberangan.
Mereka menuduh orang-orang salaf yang melarang bidah dan yang memperingatkan
bahayanya dan bahaya para pengikutnya, sebagai orang kafir, atau ahli bidah itu
sendiri, atau yang suka usil menyusahkan orang lain, dan lain sebagainya. Semua
itu adalah penyesatan dan upaya memutarbalikkan fakta. Apa yang disampaikan
oleh orang-orang salaf tersebut merupakan hukum-hukum syariat yang telah
berhasil dicetuskan oleh para ulama mujtahid yang jujur untuk orang yang memang
secara syariat terkena, sesuai dengan keyakinan mereka. Sangat boleh jadi ada
salah seorang di antara mereka yang melakukan kesalahan, tetapi hal itu bukan
dari manhaj mereka.
Karena itulah orang-orang
yang menjadi budak nafsu mencurigai kaum salaf dengan cara mencaci maki,
menghujat, mengutuk, dan lain sebagainya. Menurut persepsi mereka, sebutan
kafir, ahli bidah, fasik dan yang lainnya yang ditetapkan oleh orang-orang
salaf berdasarkan hukum syariat, adalah sebutan yang mengandung caci maki,
kutukan, dan kecaman. Padahal, hal itu adalah sebutan yang proporsional dan
tidak mengada-ada. Tetapi, memang begitulah cara yang selalu digunakan oleh
musuh-musuh Rasulullah saw. untuk melindungi diri dan memojokkan pihak lain
yang mereka benci.
Kita semua tahu bahwa memcaci maki kekufuran, kemusyrikan, bidah, dan kefasikan
sangat dianjurkan oleh agama asalkan menggunakan ketentuan-ketentuan syariat.
Hal itu diterangkan dalam kitab Allah dan sunah Rasul-Nya saw. Selain menyuruh
mengesakan Allah, Nabi saw. sekaligus melarang mempersekutukan-Nya, dan
mengecam penyembahan kepada berbagai macam berhala. Ketika Nabi saw. melarang
perbuatan syirik, kaum musyrikin mengatakan bahwa beliau telah mencaci maki
tuhan-tuhan mereka. Tetapi, itu adalah salah satu caci maki yang dianjurkan,
dan menjadi salah satu pilar penting bagi tegaknya agama sepanjang zaman.
Sumber: Hiraasah al-Aqidah, Nashir
ibn Abdul Karim al-Aql
Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi
Islam Indonesia